Kemudian aku sadar,
bukan cinta yang pada akhirnya memiliki…
tetapi,
jodohlah yang akan memiliki..
saat ini, aku hanya butuh mencintaimu…

aku bosan..

seperti tunas yang baru tumbuh kemarin, tapi lantas tak mendapat sinar…karena hujan melulu…

atau mungkin seperti debu2 yang berterbangan di angkasa luar..hampa…tanpa ada teman berkelana…

atau mungkin seperti musafir yang hanya melihat fatamorgana di padang pasir nan tandus…mengahrap air ternyata pasir…

malang sekali aku ini… Baca entri selengkapnya »

Hei teman, terimaksih karena telah mengulurkan tanganmu akhir-akhir ini. Maafkan aku yaa yang kemudian merasa tak membutuhkanmu lagi. Terakhir kali mungkin kau datang padaku medio 2009 dan sekarang aku bertemu denganmu lagi. Maaf aku tak sempat mengingatmu lagi, setelah aku, kau bantu mengumpulkan keramik-keramik yang pecah yang akan aku pamerkan kepada orang-orang yang berharap padaku, kepada kedua orang tuaku terutama. Terima kasih juga saat itu kau tak menempelkannya lagi untuk menjadi utuh. Tapi kau menyadarkanku dengan melihat ke bawah dan akhirnya aku kembali Baca entri selengkapnya »

Aku bersyukur mendapatimu jauh dariku
Meski aku sadar,
Aku bukan pangeran tampan dengan kuda putih..

Tetapi berjuta langkah yang aku tempuh…
Adalah sama halnya rajutan benang rindu yang menyimpul senyum…
Yang sedikit demi sedikit
memberikan kekuatan pada bangunan cinta kita…

Kita selalu punya makna kata yang harmonis
Yang kadangkala…
adalah kontradiktif bagi seorang ahli…

Bahwa sejak kita jatuh cinta bersama, maka kita bangun cinta seterusnya… Baca entri selengkapnya »

Apa gunaku tahu definisi waktu…
jika aku masih bertanya pada mungkin,
tanggal berapa hari ini….

Lalu dalam setiap jam, pada hari ini
adalah kekcewaan

apa yang bisa aku banggakan pada matahari dan rembulan..

dengan peluhku yang membeku,
dengan sisa harapku pada entah?
entah ya, entah tidak… Baca entri selengkapnya »

oleh : Ma’rufin Sudibyo


Gbr. 1 Pantai Sengigi berbatasan dengan Samudra Hindia

Beranjangsanalah ke pesisir yang anda kenal. Sembari menikmati panorama indah tepian samudera yang disajikan Sang Pencipta dengan demikian memukau, silahkan merenung dan mencari jawab atas pertanyaan: darimana air sebanyak itu berasal ?

Hampir tiga perempat permukaan Bumi ditutupi air, tepatnya sejumlah 70 %. Dan hampir seluruh air tersebut berada dalam sebuah badan air tunggal yang disebut samudera, meski manusia membagi-baginya menjadi empat wilayah untuk mempermudah penamaan secara administratif. Air samudera yang belimpah merupakan faktor vital yang mendukung kehidupan di Bumi, sebab dengan adanya air inilah siklus karbon (dalam bentuk transfer karbondioksida di atmosfer menjadi sedimen karbonat di dasar laut dan sebaliknya) dapat berlangsung. Demikian pula daur hidrologis yang menghasilkan iklim dan cuaca. Peruraian air menjadi gas Oksigen dan ion Hidrogen lewat mekanisme mengagumkan di dalam butir-butir hijau daun menyajikan emisi gas yang sangat diperlukan makhluk hidup aerob termasuk manusia. Maka dapat dikatakan, tanpa keberadaan air samudera, kehidupan takkan bisa bertahan di permukaan Bumi.
Baca entri selengkapnya »


Setelah membaca buku dengan judul asli Les Chants de I’ile a dormer debout – le Livre de Centini saya mulai berpikir bahwa wajar saja Batik, Reog Ponorogo, lagu daerah Rasa Sayange diklaim tetangga kita Malaysia. Mengapa? Saya pikir kecintaan masyarakat kita terhadap budaya sendiri mulai luntur. Namun, saya tak akan membahas kecintaan yang luntur dan ketidaksadaran kebanyakan masyarakat kita sampai-sampai banyak sekali kebudayaan yang diklaim negara lain. Biarkan saja pembaca sekalian yang akan menyimpulkan sendiri dan bertanya pada hati masing-masing mengapa bisa terjadi fenomena yang demikian.

Les Chants de I’ile a dormer debout – le Livre de Centini ditulis Elizabeth D. Inandiak, seorang ibu berkebangsaan Perancis ini menceritakan kembali kisah-kisah dalam Suluk Tambangraras dengan sangat fasih dan memukau. Buku tersebut kemudian diterjemahkan dan kemudian berjudul Centhini Kekasih yang Tersembunyi. Baca entri selengkapnya »

‘Ludwig Boltzmann, who spent much of his life studying statistical mechanics,
died in 1906, by his own hand.
Paul Ehrenfest, carrying on the work, died similarly in 1933. Now it is our turn to study statistical mechanics.
Perhaps it will be wise to approach the subject cautiously.”
Baca entri selengkapnya »

‘Ludwig Boltzmann, who spent much of his life studying statistical mechanics,
died in 1906, by his own hand.
Paul Ehrenfest, carrying on the work, died similarly in 1933. Now it is our turn to study statistical mechanics.
Perhaps it will be wise to approach the subject cautiously.
Now it is our turn to study.”

Awalnya aku tidak mengerti apa sebenarnya maksud kalimat diatas. Terutama mengapa tulisan diatas muncul di perkuliahan pertama fisika statistik yang diajarkan Dosen Wispar Sunu B, Ph.D. Bahkan ketika beliau menerangkan kontrak kuliah di pertemuan pertama ini aku masih mencermati kata-kata tersebut. Dalam pikiranku aku menangkap Boltzmann menghabiskan waktu hidupnya untuk belajar mekanika statistik, tetapi mengapa kematiannya diceritakan di tulisan tersebut? Dalam hatiku sendiri aku bilang “penting yaa?”. Sama halnya dengan Ehrenfest mati dengan cara yang sama, yaitu bunuh diri (by his own hand) maksudnya apa ini?

Akhirnya aku putuskan untuk mencermati kontrak kuliah saja. Setelah sepakat kita mulai dengan perkenalan fisika statistik. Perkenalan matakuliah biasanya itu-itu saja. Akan tetapi hal ini tidak berlaku pada fisika statistik. Setelah melihat arah pembicaraannya, aku baru mudeng dengan kalimat Now it is our turn to study. Baca entri selengkapnya »

Sebenarnya aku iri dengan tulisan leli tentang bharega di http://nurlailifajriyah.blogspot.com/, maka dari itu aku mau menulis cerita tentang bharega… pikir-pikir ternyata aku nggak pernah nulis tentang pengalamanku di bharega…

ceritanya begini…

6-9 April 2008
Kemah Tahunan para B17. Banyak hal yang menarik untuk diceritakan sebenernya. tidur di luar tenda karena ga kebagian tempat (padahal udara pegunungan, tapi akhirnya bikin api unggun), ngusir anjing hutan yang masuk ke kamp perkemahan PMR, mandi di sungai air panas (waktu itu kemahnya masih di Guci) sampai betapa merasa puas membuat sebagian besar B17 menangis terisak-isak…hahaha
Baca entri selengkapnya »

Ayo kasih makan ikanku…:)

Kategori Tulisan

Masukkan alamat surel Anda untuk berlangganan blog ini dan menerima pemberitahuan tulisan-tulisan baru melalui email.

Bergabunglah dengan 1 pengikut lainnya.

 

Januari 2012
S S R K J S M
« Des    
 1
2345678
9101112131415
16171819202122
23242526272829
3031  

Pengunjung

free counters
Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.