Setelah membaca buku dengan judul asli Les Chants de I’ile a dormer debout – le Livre de Centini saya mulai berpikir bahwa wajar saja Batik, Reog Ponorogo, lagu daerah Rasa Sayange diklaim tetangga kita Malaysia. Mengapa? Saya pikir kecintaan masyarakat kita terhadap budaya sendiri mulai luntur. Namun, saya tak akan membahas kecintaan yang luntur dan ketidaksadaran kebanyakan masyarakat kita sampai-sampai banyak sekali kebudayaan yang diklaim negara lain. Biarkan saja pembaca sekalian yang akan menyimpulkan sendiri dan bertanya pada hati masing-masing mengapa bisa terjadi fenomena yang demikian.

Les Chants de I’ile a dormer debout – le Livre de Centini ditulis Elizabeth D. Inandiak, seorang ibu berkebangsaan Perancis ini menceritakan kembali kisah-kisah dalam Suluk Tambangraras dengan sangat fasih dan memukau. Buku tersebut kemudian diterjemahkan dan kemudian berjudul Centhini Kekasih yang Tersembunyi.

Suluk Tambangraras, lebih dikenal sebagai Serat Centhini, merupakan sebuah kenangan bersama dua ratus dua puluh juta manusia Jawa saat itu. Sebuah cerita tentang pengembaraan edan luar batas. Mahakarya Jawa ini terdiri dari 12 jilid, sekitar 4200 halaman, 722 tembang, 200 ribu bait lebih.

Dalam perwayangan, suluk adalah suara meninggi. Tambangraras adalah nama istri dari tokoh utama (Amongraga). Tetapi entah kenapa kemudian suluk ini kemudian lebih dikenal dengan serat Centhini. Centhini sendiri adalah nama seorang pembantu Tambangraras yang setia.

Serat Centhini tersusun karena perselisihan antara Anom Amengkunegara III dengan ayahnya, Sang Susuhan. Ia diusir dari istana setelah dimarahi ayahnya karena kebandelannya. Lalu, pada tahun 1814, ia memanggil ketiga pujangga keraton, Sastranagara, Ranggasutrasna, Sastradipura untuk menyusun Centhini,

Bisa dikatakan dua belas jilid centhini adalah sebuah Ensiklopedi Jawa dengan kekayaan kosakata paling tinggi. Centhini sendiri berisi, selain cerita utama tentang cinta Amongraga dengan Tambangraras, juga berisi ilmu pengetahuan kebudayaan Jawa, antara lain tentang keagamaan, seni musik, seni tari, ramalan, nama-nama tempat di Jawa, nama tumbuhan, nama hewan, siklus kehidupan, erotisisme, dan nama-nama makanan serta minuman.

Bagi saya yang menarik tentang buku Les Chants de I’ile a dormer debout – le Livre de Centini adalah proses kreatifnya yang dialami oleh penulisnya. E.D. Inandiak rela mendengarkan selama berjam-jam, syair-syair centhini yang ditembangkan temannya.Ia bukan pakar bahasa jawa yang kemudian dengan mudahnya menulis buku tersebut. Ia pergi berkelililng Pulau Jawa selama beberapa minggu untuk bertemu dengan sastrawan, dalang, kiai, juru kunci, seniman, dan petani untuk mengumpulkna pandangan mereka terhadap serat Centhini pada awal abad 21. Inandiak juga bertemu Ong Ho Kham (Sejarawan), Gus Dur, dan sampai membela untuk berangkat ke Perancis, hanya untuk membaca disertasi karya Dr. Mohammed Rasjidi yang terdapat di Universitas Sorbonne.

Sebagai penutup, yang saya rasakan adalah kebanggaan yang sangat, setelah membaca buku ini. Terutama tentang kebudayaan Jawa, terutama lagi tentang falsafahnya. Meskipun terlepas dari sebuah hal yang miris, bahwa saya tersadar tentang sesuatu kebudayaan bangsa ini karena jerih payah orang berkebangsaan lain.