
Apa gunaku tahu definisi waktu…
jika aku masih bertanya pada mungkin,
tanggal berapa hari ini….
Lalu dalam setiap jam, pada hari ini
adalah kekcewaan
apa yang bisa aku banggakan pada matahari dan rembulan..
dengan peluhku yang membeku,
dengan sisa harapku pada entah?
entah ya, entah tidak…
Aku leleh terbakar lelah
dan seketika aku bermimpi tuk bersandar pada anggrek nan ayu..
seketika aku pun tersadar..
bahwa anggrek adalah epifit
nun jauh di pucuk pohon…
sedang aku terbenam pada lumpur tangis..
tersedak tanah bercampur air bercampur pasir..
mungkin hanya sulur-sulur kesabaran yang akan mengangkatku..
24 September, diantara dua kota pemisah jiwa-raga


Tinggalkan komentar
Pengumpan komentar untuk artikel ini