Hei teman, terimaksih karena telah mengulurkan tanganmu akhir-akhir ini. Maafkan aku yaa yang kemudian merasa tak membutuhkanmu lagi. Terakhir kali mungkin kau datang padaku medio 2009 dan sekarang aku bertemu denganmu lagi. Maaf aku tak sempat mengingatmu lagi, setelah aku, kau bantu mengumpulkan keramik-keramik yang pecah yang akan aku pamerkan kepada orang-orang yang berharap padaku, kepada kedua orang tuaku terutama. Terima kasih juga saat itu kau tak menempelkannya lagi untuk menjadi utuh. Tapi kau menyadarkanku dengan melihat ke bawah dan akhirnya aku kembali bersyukur pada Yang Telah Menciptakan aku. Maaf jika selama sekitar dua tahun lebih aku justru meninggalkanmu, padahal aku membawa bekal yang kau beri saat itu.Kini kau hadir lagi dan kembali membacakan serta mengingatkan pada kalimat-kalimat yang pernah kita catat pada diri kita masing-masing sebagai senjata. Aku tak pernah menang dalam memamerkan seberapa banyak kata-kata bagus yang tercatat, sedang kau pun tak pernah kalah dari aku dalam memamerkan seberapa banyak kata yang pernah kita catat. Karena aku yakini kita mencatat kata sama banyak, tak ada pemenang dan tak ada pecundang. Tapi dalam hal yang lain aku selalu tertolong olehmu, sebagaimana kau menyeimbangkan aku dari hitam dengan menambah putih.Aku rasa kau selalu datang disaat yang tepat, setidaknya seperti itu. Aku pernah mencatat sebuah kata untukmu. Aku lupa karena aku telah kehilangan catatanku. Seingatku kalimatnya berbunyi seperti ini : “Teman yang baik adalah, saat kau membutuhkan krayon hitam, dia memberi yang merah”Dan sore ini kamu mengingatkan aku lagi, pertama kalinya setelah sekian lama, yaah sekitar dua tahun mungkin. Terimaksih teman.
Jogja, 20 Nov 2011


Tinggalkan komentar
Pengumpan komentar untuk artikel ini